Menu

Mode Gelap

Desa · 26 Des 2022 21:57 WIB

SINAGAR IRIGATIE ONDERNEMING


					SINAGAR IRIGATIE ONDERNEMING Perbesar

 

Jelajah Sukabumi-Menyusuri Jejak sejarah jalur irigasi Perkebunan kolonial yang pernah menjadi perkebunan Teh Pertama & Terluas di Hindia Belanda, “NV SINAGAR- TJIROHANI ESTATE” Yang perkembangan pemanfaatannya selain Untuk saluran irigasi Perkebunan Thee en Koffie, Pertanian, pengairan Pesawahan warga & pembangkit listrik (Turbine Electric), yang Unik, membentang serta berkelok indah menyusuri lembah subur dari mulai Waterkracht “Sungapan Sungai Cikolawing”, sepanjang lebih dari 15- 20km, Terlebih lagi terhitung setelah ditambahnya blok jalur irigasi Darmaga, yang dibangun unik, yaitu beberapa meter diatas permukaan jalan raya.
Berdasarkan penuturan para saksi serta pelaku sejarah yang selama ini kita susun & kumpulkan bersama dengan Sumber- sumber tertulis Era kolonial maupun pra & Pasca kolonial, sejak sebelum thn 2000 lalu hingga Hari ini..

Kondisi Bendungan Sungai Cikolawing Terkini

Menurut beberapa sumber, mengatakan bahwa irigasi ini awalnya sudah dibangun oleh Tokoh bersama masyarakat pribumi sebelum kedatangan bangsa Eropa ke Wilayah Pasir luhur (Nagrak/ Nengrak), namun kemudian lebih disempurnakan lagi & diperpanjang alirannya di Era kejayaan Perkebunan kolonial Belanda, yang Ketika waktu itu, sekitar thn Cibadak Lebih Populer dengan Nama Kawadanaan Ciheulang.

Scipio (Seorang Sersan VOC) 1619 yang melewati wilayah ini bersama Letnan Tanujiwa pada menyebutnya sebagai “Silangh” (Ciheulang).
Begitupun Gubernur Jenderal Abraham Van Riebeeck 1703, yang mengunjungi Jogjogan dan Pondok Opo (dua tempat yang masih wilayah Cibadak) menyebutnya sebagai “Tzilangh”

Nama Ciheulang kemudian diresmikan sebagai distrik pada 1776.
Fakta pembentukan distrik untuk pertamakalinya diperkuat oleh keberadaan kuburan Raden Raksadipraja (1739-1830) demang/Wadana Ciheulang pertama di Nagrak.

Pembangunan infrastruktur awal di Cibadak dilakukan sesudah pembelian wilayah ini oleh Engelhardt bersamaan dengan wilayah lainnya oleh Andries Wilde dan Raffles pada 1813.
Sang pengelola yaitu Andries De Wilde membangun 20 kilometer irigasi yang disalurkan dari Sungai Cikolawing dan Cicatih.

Dalam catatan peneliti Pieter Willem Korthals tanggal 2 Juli 1831, wilayah yang dia sebut The Badaks (Cibadak), memiliki irigasi yang dibuat di sungai Tjitjati dengan lembah berumput dan kontur yang tajam. Irigasi ini digunakan untuk mengairi perkebunan tanam paksa/ Cultuur Stelsel (1830- 1870).
Tjiheulang Berganti Nama Menjadi Cibadak Setelah Dibangun Stasiun KA (1879- 1882).
Pasca dibangunnya Stasiun Kereta Api (KA) Cibadak, nama Cibadak semakin populer. Sehingga pada 17 Mei 1913 Distrik Ciheulang berubah nama menjadi distrik Cibadak dan dikenal pada masa awal kemerdekaan sebagai Kawedanaan Cibadak.
Wilayah ini sudah dihuni manusia sejak masa purba tepatnya jaman batu, Terbukti dengan temuan kapak batu di dalam tanah di wilayah Malingut, Cibadak, kemudian di Cipetir , di Karang Tengah tepi sungai Ciheulang dan di Cibadak sendiri. Delapan buah kapak batu juga ditemukan di Cikidang, dua di antaranya ditemukan di Pasir Rarangan, Menurut informasi Saat ini keberadaan kapak-kapak tersebut berada di Museum Pusat Jakarta.

Sejarah Cibadak juga diwarnai masa logam, dibuktikan dengan temuan tiga buah kapak perunggu di Munjul oleh Mr. J.G. Huisjer pada 1871, Penemuan kapak perunggu ini bersamaan dengan kepingan periuk belanga. Kemudian di Sinagar, Nagrak, ditemukan dua lonceng perunggu, dua cermin dan sebuah piring logam.

Kabuyutan Sanghiyang Tapak

Sanghyang Tapak adalah sebuah kabuyutan di Cibadak, nama itu disebut dalam prasasti yang ditemukan di wilayah Cibadak, pada tahun Saka 952 bulan Kartika tanggal 12 atau 11 Oktober 1030, ini terdiri dari empat buah batu bertulis yang ditemukan di aliran Sungai Citatih, sebuah lagi ditemukan pada 1890 di hutan pinggir sungai yang sama, tepatnya di dekat Leuwi Kalabang.
Prasasti tersebut dilaporkan dan diserahkan oleh Wedana Cibadak saat itu ke Museum Batavia (Jakarta), kemudian pihak Museum memberi nomor koleksi D 73.

Tiga prasasti lain yang ada hubungannya dengan Sri Jayabhupati, ditemukan J. Faes pada 1897, dari dalam hutan Bantar Muncang, Kecamatan Cibadak. Ketiga prasasti tersebut dilaporkan dan diserahkan ke Museum Batavia, kemudian diberi nomor koleksi D.96, D.97, dan D.98.

Sesudah dibantu diterjemahkan oleh Patih Sukabumi Soeria Nata Legawa dan Dr Lord deu Brandes tahun 1899, akhirnya Pleyte menyimpulkannya di dalam sebuah artikel berjudul “Maharaja çri Jayabupathi Soenda’s Outdst Bekend Vorst”, dengan mengetengahkan transkip mengenai ” Prasasti Cibadak” Prasasti ini begitu penting karena membuka catatan sejarah Kerajaan Sunda yang sebelumnya samar dan tidak jelas. Isi prasasti juga unik, karena dalam segala hal menunjukkan corak Jawa Timur baik bahasa, gaya penuturan, dan penggunaan gelar.

Prasasti Cibadak menjelaskan bahwa Raja Sunda Sri Jayabuphati telah membuat tapak di sebelah timur kabuyutan Sanghyang Tapak. Sungai yang sudah dibatasi dengan dua batu besar di bagian hilir tadi, siapapun dilarang menangkap ikan dengan ancaman kutukan, sebuah metode keseimbangan alam masa lalu.

Kabuyutan ini menurut Pleyte berhubungan juga dengan tempat perlindungan di sekitar Perbakti di Kecamatan Cicurug. Sesudah mengkomparasikan prasasti ini dengan Pustaka Nusantara I/2, diketahui hubungan kekerabatan dengan raja-raja wilayah lain seperti Dharmawangsa, kemudian Raja Melayu, Raja Sriwijaya, Mentri Bali, dan lain-lain.

Jika dipetakan batas timur Sanghyang tapak ini cukup luas, dari sekitar Pamuruyan hingga Bantar Muncang, atau malah bisa jadi lebih luas dari Kota Cibadak. Hal ini memunculkan asumsi bahwa Ibu kota Kerajaan Sri Jayabupathi berada di Wilayah Cibadak.

Sumber:

– KITLV
– Colonial Archief
– Amerika Oregonian
– Australia Bunbury Herlad Courant
– Yayasan Jelajah Sejarah Soekaboemi

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 28 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Sekda ADE”Inflansi di Kabupaten Sukabumi Masih Terkendali

8 Februari 2023 - 02:00 WIB

Ketua FPII Sukabumi Raya Ungkapkan Kemajuan dan Kemakmuran Bangsa Tidak Lepas Dari Peranan Perempuan

7 Februari 2023 - 07:50 WIB

RSUD SEKARWANGI RAIH PENGHARGAAN THE BEST HOSPITAL IN SERVICE & PERFORMANCE EXCELLENT OF THE YEAR

6 Februari 2023 - 05:59 WIB

Wabup Terima Audiensi Komunitas Tiga Puluh Kab Sukabumi

31 Januari 2023 - 21:39 WIB

Cepy Heri Pratama Terpilih Sebagai Ketua Karang Taruna Des Sekarwangi Kab Sukabumi

31 Januari 2023 - 01:09 WIB

KARS SURVEY PENILAIAN AKREDITASI BLUD RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PALABUHANRATU

29 Januari 2023 - 17:41 WIB

Trending di Kesehatan